Zelensky TIdak Akan Berikan Wilayah Ukraine ke Rusia. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky tegas tegaskan bahwa Ukraina tak akan serahkan satu inci pun wilayahnya ke Rusia, di tengah tekanan damai yang semakin kencang dari AS di bawah Donald Trump. Pernyataan ini keluar saat Zelensky bertemu pemimpin Eropa di London pada Senin (8 Desember 2025), di mana ia tolak tuntutan Rusia soal pengakuan wilayah yang diduduki. “Kami tak punya hak hukum atau moral untuk itu,” katanya, kutip konstitusi Ukraina yang nyatakan wilayah tak terbagi. Ini respons langsung atas proposal damai Trump yang sarankan “swap wilayah” untuk akhiri perang hampir empat tahun, yang Zelensky anggap condong ke Rusia. Pertemuan dengan PM Inggris Keir Starmer, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Kanselir Jerman Friedrich Merz jadi dukungan kuat Eropa, tapi soroti celah: Ukraina tolak kompromi, sementara Moskow tetap gigih. BERITA BOLA
Pernyataan Zelensky di London: Zelensky TIdak Akan Berikan Wilayah Ukraine ke Rusia
Zelensky bicara tegas usai pertemuan di 10 Downing Street: “Rusia tuntut kami serahkan wilayah, tapi kami tak mau beri apa pun.” Ia sebut tuntutan itu langgar konstitusi Ukraina, hukum internasional, dan moral—tak ada yang waras mau tanda tangan dokumen seperti itu. Pernyataan ini lanjutan sikapnya sejak November, saat negosiator Ukraina Andriy Yermak bilang Zelensky tak akan serahkan tanah selama jadi presiden. Di London, Zelensky soroti proposal AS yang “tak kontras dengan kepentingan kami, tapi ambil akui garis merah.” Trump kritik Zelensky karena “belum baca proposal,” tapi Ukraina sebut versi 28 poin bocor itu sudah direvisi jadi 19 poin, dengan isu wilayah diserahkan ke pemimpin. Zelensky harap pertemuan akhir pekan dengan Trump bahas ini, tapi tegas: tak ada swap wilayah.
Tekanan dari Trump dan Proposal Damai: Zelensky TIdak Akan Berikan Wilayah Ukraine ke Rusia
Proposal damai Trump, yang dibahas di Miami akhir pekan lalu, sarankan kompromi termasuk swap wilayah untuk akhiri perang. Trump bilang “beberapa swap wilayah” bisa jadi bagian kesepakatan, tapi tak jelas wilayah mana—mungkin Donbas, Zaporizhzhia, atau Kherson yang Rusia kuasai. Zelensky tolak keras, sebut itu “ganjaran bagi Rusia atas kejahatan mereka.” Negosiasi Miami tak hasilkan terobosan, sisakan isu jaminan keamanan dan wilayah untuk pemimpin putuskan. Zelensky sebut rencana Eropa—yang tolak elemen pro-Rusia—lebih seimbang, dan ia komit lanjut diskusi. Trump, yang kritik Zelensky, bilang ia “kecewa” karena Ukraina tak baca proposal—tapi Kyiv sebut versi bocor itu sudah usang. Ini tekanan besar bagi Zelensky, yang hadapi kritik internal soal perang berkepanjangan.
Dukungan Eropa dan Respons Rusia
Pemimpin Eropa tunjukkan solidaritas kuat di London. Starmer bilang tak akan paksa Zelensky terima kesepakatan Trump, sementara Macron dan Merz skeptis soal proposal AS yang terlalu condong Rusia. Mereka dukung rencana Eropa yang revisi 28 poin jadi lebih adil, fokus langkah damai tanpa pengkhianatan kedaulatan Ukraina. Zelensky apresiasi: “Eropa paham kami bertarung untuk tanah kami.” Di sisi lain, Rusia tetap gigih: Kremlin bilang rencana Eropa “tak konstruktif” dan tak cocok mereka. Putin tuntut pengakuan wilayah secara hukum, batas militer Ukraina, dan larang gabung NATO—tuntutan yang Zelensky sebut “tak masuk akal.” Respons Rusia tunjukkan jarak masih lebar, meski negosiasi lanjut di Abu Dhabi.
Dampak bagi Ukraina dan Prospek Damai
Sikap Zelensky beri semangat bagi Ukraina yang lelah perang, tapi tambah tekanan ekonomi—ekspor terganggu, bantuan AS ragu. Konstitusi Ukraina larang serahkan wilayah, dan survei tunjuk 80 persen rakyat tolak kompromi. Prospek damai redup: Trump ingin akhiri perang cepat, tapi Zelensky tegas tak akan “ganjaran Rusia.” Eropa janji dukung, tapi tuntut negosiasi lanjut. Ini ujian bagi Zelensky: pertahankan kedaulatan atau terima damai pahit? Dampaknya luas—perang ini bukan cuma Ukraina, tapi keseimbangan Eropa.
Kesimpulan
Zelensky tak akan serahkan wilayah Ukraina ke Rusia jadi garis merah tegas di tengah proposal damai Trump yang kontroversial. Dari pertemuan London hingga revisi rencana Eropa, sikapnya dapat dukungan kuat meski Rusia gigih tuntut. Ini bukan akhir perang, tapi sinyal: Ukraina bertarung untuk kedaulatan, tak kompromi. Trump tekan, Eropa dukung—Zelensky pegang kunci. Damai adil mungkin lambat, tapi garis merah ini lindungi masa depan Ukraina. Perang lanjut, tapi tekad tak goyah.