TerbakarTerbakar

Pesantren di Jagakarsa Jaksel Terbakar, Apa Penyebabnya ? Jakarta Selatan diguncang kebakaran di basement Pondok Pesantren Al Mawaddah, Ciganjur, Jagakarsa, Rabu siang 10 Desember 2025. Api yang melahap ruang bawah tanah ini dilaporkan pukul 14.28 WIB, picu evakuasi cepat dan respons darurat dari berita terbaru pemadam. Untungnya, tak ada korban jiwa, meski tiga santri mengalami sesak napas dan dibawa ke rumah sakit terdekat. Pesantren yang dikenal sebagai tempat belajar agama dan karakter bagi ratusan santri ini kini jadi fokus investigasi: penyebab pasti masih digali, tapi dugaan awal menunjuk ke korsleting listrik di instalasi tua. Di tengah musim hujan yang justru tingkatkan risiko kebakaran indoor, insiden ini ingatkan betapa rapuhnya keselamatan di bangunan institusi pendidikan. Kisahnya bukan sekadar puing gosong, tapi pelajaran berharga soal pencegahan yang tak boleh diabaikan lagi.

Kronologi Kejadian Terbakar dan Respons Cepat Petugas Kebakaran

Semuanya bermula saat warga sekitar melihat asap hitam mengepul dari basement pesantren di Jalan Sadar Raya No. 34/3, RT 03/RW 04, Ciganjur. Laporan masuk ke posko Gulkarmat terdekat pukul 14.29 WIB melalui telepon darurat—warga panik karena basement ini biasa dipakai simpan barang dan ruang multifungsi santri. Dalam hitungan menit, api membesar, tapi santri dan pengasuh cepat evakuasi diri, berkat latihan darurat rutin yang dilakukan pengelola.

Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Selatan langsung gerak kilat. Sebanyak 40-42 personel dengan 9 unit mobil pemadam dikerahkan, tiba di lokasi pukul 14.50 WIB. Kasudin Asril Rizal pimpin operasi, fokus semprot air dari selang utama untuk lokalisir api. Dalam 20 menit, api berhasil dikendalikan pukul 14.57 WIB, meski proses pendinginan lanjut hingga sore. “Kami prioritaskan evakuasi dan cegah api merambat ke lantai atas, di mana ratusan santri belajar,” ujar Asril. Tim juga pasang karpet basah di sekitar untuk isolasi, sementara drone dipakai pantau titik panas tersisa. Evakuasi sukses: semua santri aman, hanya tiga remaja laki-laki (usia 15-17 tahun) yang sesak napas akibat hirup asap—mereka dirawat di RS Fatmawati dan kini stabil.

Penyebab Dugaan Terbakar dan Faktor Pendukung

Penyebab pasti masih dalam pendalaman, tapi dugaan awal mengarah ke korsleting listrik—skenario umum di bangunan tua seperti basement pesantren ini. Instalasi listrik di ruang bawah tanah sering overload karena peralatan sederhana seperti kipas angin, charger, atau lampu darurat yang dipasang bertahun-tahun tanpa upgrade. Asap awal terlihat dari panel listrik, mirip kasus kebakaran sebelumnya di Jakarta yang 70% disebabkan arus pendek. Pengelola pesantren sebut basement ini jarang dipakai siang hari, tapi ada kabel longgar yang mungkin picu percikan.

Faktor pendukung: ventilasi buruk di basement bikin api cepat membesar, ditambah material kayu dan kardus simpanan yang mudah terbakar. Musim hujan justru tingkatkan risiko indoor, karena kelembaban bikin isolasi listrik rapuh. BPBD DKI catat 922 kebakaran di Jakarta sepanjang 2025—naik 15% dari tahun lalu—mayoritas dari listrik usang. Belum ada indikasi sabotase; polisi sektor Ciganjur mulai olah TKP, kumpul bukti CCTV dan saksi. Pengasuh pesantren, Ustadz Ahmad, bilang: “Kami sudah pasang APAR, tapi kali ini terlalu cepat.” Ini pengingat: audit listrik rutin bisa selamatkan nyawa.

Dampak dan Langkah Pemulihan

Dampaknya terasa, meski tak fatal. Basement hancur total—ruang seluas 100 meter persegi gosong, hilangkan barang seperti buku pelajaran, alat sholat, dan stok makanan santri. Kerugian materiil ditaksir Rp500 juta, tapi pesantren utama aman, jadi kegiatan belajar lanjut di tenda darurat. Tiga santri yang sesak napas dapat oksigen dan nebulizer; satu di antaranya sempat pusing berat, tapi dokter bilang pulih dalam 24 jam. Warga sekitar panik sebentar, tapi gotong royong muncul: tetangga bantu angkut barang selamat dan sediakan air minum untuk petugas.

Pemulihan cepat: pengelola pesantren koordinasi dengan Kemenag Jaksel untuk bantuan sementara, sementara Gubernur DKI Pramono Anung instruksikan audit keselamatan semua ponpes di ibu kota. Ini bagian dari program pasca-kebakaran Terra Drone November lalu, yang tewaskan 22 orang karena minim proteksi. Donasi online mulai mengalir via platform seperti Kitabisa, target Rp1 miliar untuk renovasi. Ustadz Ahmad rencanakan training evakuasi ulang minggu depan, libatkan 200 santri. Di sisi positif, insiden ini satukan komunitas Ciganjur—masjid tetangga jadi posko doa, warga bagi makanan untuk santri malam itu.

Kesimpulan

Kebakaran basement Pesantren Al Mawaddah di Jagakarsa jadi pukulan tak terduga, tapi juga panggilan darurat untuk tingkatkan keselamatan di institusi pendidikan. Dengan dugaan korsleting listrik sebagai pemicu, dan respons cepat yang selamatkan ratusan santri, cerita ini tunjukkan betapa krusialnya instalasi modern dan latihan rutin. Tiga santri sesak napas ingatkan: api tak pandang umur, tapi pencegahan bisa. Pengelola ponpes, pemerintah, dan warga harus gerak bareng—audit listrik, tambah APAR, dan edukasi. Jagakarsa akan bangkit lebih kuat, dengan basement baru yang aman. Semoga insiden ini jadi akhir duka, awal kewaspadaan—karena pesantren bukan cuma tempat belajar agama, tapi benteng aman bagi generasi muda.

Baca Selengkapnya Hanya di..

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *