Korban Banjir di Sri Lanka Akan Mendapat Bantuan Rp 542juta. Sri Lanka sedang berjuang bangkit dari salah satu bencana alam terburuk dalam sejarahnya. Siklon Ditwah yang mendarat pada akhir November 2025 membawa banjir bandang dan longsor yang melanda hampir seluruh negeri, merenggut lebih dari 480 jiwa dan memaksa jutaan orang kehilangan rumah. Hingga awal Desember ini, lebih dari satu juta warga terdampak, dengan 200.000 jiwa mengungsi di tempat penampungan sementara. Di tengah puing-puing dan lumpur yang menyelimuti desa-desa, pemerintah berjanji bantuan sebesar 80 juta dolar AS—setara Rp 1,2 triliun—untuk pemulihan. Khusus bagi korban banjir, alokasi langsung mencapai Rp 542 juta per keluarga terdampak berat, sebuah langkah darurat yang diharapkan jadi penopang harapan di saat duka. Kisah ini bukan hanya tentang angka, tapi tentang ketangguhan warga yang kini menatap masa depan dengan tangan terbuka.
Dampak Dahsyat Sri Lanka Siklon Ditwah
Siklon Ditwah tak datang sendirian; ia membawa hujan deras yang memicu luapan sungai dan longsor di 25 distrik. Mendarat di pantai timur pada 28 November, angin kencang dan curah hujan ekstrem ini melumpuhkan infrastruktur nasional. Sungai Kelani di dekat Colombo jebol, menenggelamkan ribuan rumah di pinggirannya. Di wilayah timur seperti Batticaloa dan timur laut, longsor menghantam lereng bukit, menyapu desa-desa utuh. Hingga 4 Desember, angka korban jiwa mencapai 480 orang, dengan 360 masih hilang, sementara kerusakan rumah tangga menembus 30.000 unit—banyak yang hancur total, sisanya penuh lumpur setebal lutut.
Tak hanya nyawa dan tempat tinggal, bencana ini merobek jaringan ekonomi. Sawah padi di wilayah sentral seperti Kandy tenggelam, menghancurkan panen yang jadi tulang punggung petani. Rel kereta api putus di beberapa titik, jalan raya runtuh, dan bendungan retak, memutus akses ke desa terpencil. Lebih dari 12 juta orang terdampak di sembilan provinsi, dengan 320.000 keluarga kehilangan sumber daya sehari-hari. Anak-anak kehilangan sekolah, lansia terjebak tanpa obat, dan nelayan di Mannar tak bisa melaut karena perahu hancur. Presiden Anura Kumara Dissanayake menyebut ini sebagai “tantangan terbesar” sejak tsunami 2004, dengan estimasi biaya rekonstruksi mencapai 6-7 miliar dolar AS. Di tengah krisis, solidaritas muncul: relawan naik perahu nelayan untuk antar makanan, sementara kuil, masjid, dan gereja jadi tempat perlindungan bagi 12.000 pengungsi di Negombo saja.
Upaya Bantuan dan Alokasi Dana untuk Korban Sri Lanka
Pemerintah Sri Lanka tak menunggu lama. Status darurat diberlakukan sejak 29 November, memobilisasi militer dengan helikopter untuk evakuasi dan distribusi logistik. Lebih dari 24.000 polisi dan tentara dikerahkan, meski satu helikopter jatuh di utara Colombo saat misi penyelamatan. Bantuan internasional mengalir cepat: India kirim dua pesawat penuh makanan dan obat, ditambah kapal perang yang donasikan stoknya. Perdana Menteri Narendra Modi janji tambahan jika diperlukan. WHO alokasikan 175.000 dolar AS untuk layanan kesehatan darurat, fokus cegah wabah di pengungsian. Sementara itu, Sri Lanka Red Cross jalankan kamp medis mobile, distribusi air bersih, dan kit sanitasi untuk ribuan keluarga.
Fokus utama kini pada bantuan langsung bagi korban. Pemerintah umumkan paket pemulihan nasional senilai 80 juta dolar AS, setara Rp 1,2 triliun, yang akan dialokasikan untuk rekonstruksi infrastruktur, pertanian, dan perumahan. Khusus untuk korban banjir, alokasi per keluarga terdampak berat ditetapkan Rp 542 juta—cukup untuk bangun rumah tahan banjir, ganti peralatan rumah tangga, dan pulihkan mata pencaharian. Dana ini bersumber dari anggaran darurat, remitansi diaspora, dan donasi swasta melalui platform GovPay yang baru diluncurkan. Bagi warga seperti Hasitha Wijewardena di Ma Oya, yang rumahnya penuh lumpur, ini berarti harapan nyata. “Kami butuh lebih dari makanan; kami butuh mulai lagi dari nol,” katanya. Distribusi dimulai di distrik terparah seperti Colombo dan Kandy, dengan prioritas kelompok rentan: janda, penyandang disabilitas, dan petani kecil. Caritas dan komunitas Kristen lokal juga ikut, sediakan tempat tinggal di gereja tanpa pandang suku atau agama.
Tantangan Pemulihan dan Solidaritas Lokal
Meski bantuan bergerak, tantangan masih menumpuk. Jalan rusak dan longsor sisa siklon sulitkan truk logistik capai desa pedalaman. Di utara, hujan residu perpanjang banjir, sementara listrik dan air bersih belum pulih sepenuhnya. Anggaran terbatas karena krisis ekonomi pasca-pandemi, membuat pemerintah bergantung pada remitansi—yang capai 7% PDB tahun lalu. Relawan seperti aktor GK Reginold, yang kini pakai perahu motor antar air ke pinggiran Colombo, tunjukkan semangat sukarelawan yang bangkit. Di Wijerama, aktivis anti-pemerintah 2022 kini kelola dapur komunal, masak ribuan porsi nasi untuk korban. “Bencana ini satukan kami, lupakan politik,” ujar seorang sukarelawan. Namun, risiko wabah seperti diare dan infeksi kulit mengintai, terutama di penampungan overcrowded. Pemerintah minta bantuan multi-sektor: makanan, pendidikan, dan rehabilitasi jangka panjang, agar rekonstruksi tak hanya bangun ulang, tapi tahan iklim.
Kesimpulan
Bencana Siklon Ditwah jadi pukulan telak bagi Sri Lanka, tapi juga panggilan untuk bersatu. Dengan bantuan Rp 542 juta per keluarga bagi korban banjir sebagai jangkar awal, jalan pulih mulai terbentang—dari rumah baru hingga sawah hijau kembali. Lebih dari itu, kisah relawan dan donasi global tunjukkan kekuatan kemanusiaan di saat terburuk. Namun, ini pelajaran mahal: investasi drainase, peringatan dini, dan adaptasi perubahan iklim harus jadi prioritas. Sri Lanka, negeri singa yang tangguh, akan bangkit lebih kuat, asal tangan tetap terulur. Harapan itu nyata, dan bagi jutaan korban, itu cukup untuk langkah pertama menuju pagi cerah.
